Thu 27 Nov 2008
Ingatan Dimas masih belum cukup kuat untuk menemukan sebuah nama generik obat yang bersifat pereda rasa sakit, namun entah mengapa ia merasa yakin dengan sebuah obat, Flunarizin. Perlahan ingatannya mulai naik ke permukaan. Dimas yakin, ia pernah membantu seseorang menterjemahkan sebuah tugas artikel farmakologi berbahasa Inggris, dan Flunarizin, ia cukup ingat prefiks Flu di depannya sama sekali tidak berhubungan dengan influenza, namun sakit kepala.
Dimas mengambil sebutir obat dari botol kecil berlabel Flunarizin, lalu ia menuju bak cuci untuk mengambil air dari kran. Dengan sekali teguk, ia meminumnya. Dimas berharap obat ini segera bisa membuang dera rasa sakit di kepalanya, namun tetap saja hal itu memerlukan waktu.
Sambil bersandar di dinding, Dimas merasakan hawa dingin yang cukup menusuk. Tak ada satupun alat pendingin ruangan disana, namun saraf di kulitnya sama sekali tidak berbohong. Ya, dingin disini.
Mata dimas meneliti seluruh ruangan itu, sambil ia berpikir untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Persepsi di pikirannya memberitahu bahwa ini adalah sebuah ruang tempat tinggal yang mungkin telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Lebih mirip sebuah ruang di flat atau apartemen. Beberapa perabotan tampak lengkap, namun tak satupun perkakas ada disana. Dimas berjalan menuju lorong di ujung ruangan dan melihat sebuah jaket tergeletak di lantai dekat pintu yang terletak di akhir lorong. Dingin ruangan itu dan tanpa banyak pikir, ia memutuskan untuk memakai jaket berwarna biru tua tersebut. Sangat cocok dengan ukurannya. Atau mungkin memang jaket itu adalah miliknya ?
Dengan reflek, tangannya merogoh setiap saku yang ada di jaket itu. Perhatian Dimas terhenyak ketika ujung jari tangannya menyentuh sebuah benda di dalam saku jaket yang ia pakai. Sekali tarik, kemudian Dimas mengetahui bahwa benda tersebut adalah sebuah anak kunci dengan sebuah gantungan plat kecil . Sebuah gambar logo dan tulisan di plat tersebut.
————————————————————————–
Bibliothèque
Faculté Polytechnique de Mons - Académie Universitaire Braitore Bruxelles
Rue de Houdain 27, 7100 Mons, Belgium
065 29 91 31
————————————————————————–
Ekspresi wajah Dimas membeku sejenak, pandangan matanya menerawang ke ruang tengah tadi. Nampaknya ia seperti menemukan sebuah simpulan, namun ia harus lagi memastikannya. Bergegas ia kembali ke ruang tengah, dan ia menuju ke arah jendela. Ia melihat bangunan bertingkat dan beberapa deretan rumah yang nampak unik baginya, memang bukan seperti bangunan rumah di Indonesia. Lalu iapun seperti menemukan jawaban pula mengapa ruangan ini terasa dingin tanpa ada pendingan ruangan. Oh, tidak. Aku ada di Belgia ? Aku orang Indonesia, bagaimana aku bisa sampai disini ?
Sederetan pertanyaan makin berlalu lalang menerjang benaknya. Belum lagi sakit kepalanya benar-benar reda, kini Dimas dihadapkan pada suatu keadaan yang sangat memeras nalarnya. Kepalanya menengadah, pendangannya tampak kosong ke arah langit-langit ruangan itu.
Tak mau terlalu berlama-lama dalam kebingungan, Dimas segera meneliti kembali anak kunci yang ia temukan di jaket tersebut. Sebuah angka kecil bertuliskan ‘197′ di balik plat gantungan kunci itu.