Ingatan Dimas masih belum cukup kuat untuk menemukan sebuah nama generik obat yang bersifat pereda rasa sakit, namun entah mengapa ia merasa yakin dengan sebuah obat, Flunarizin. Perlahan ingatannya mulai naik ke permukaan. Dimas yakin, ia pernah membantu seseorang menterjemahkan sebuah tugas artikel farmakologi berbahasa Inggris, dan Flunarizin, ia cukup ingat prefiks Flu di depannya sama sekali tidak berhubungan dengan influenza, namun sakit kepala.
Dimas mengambil sebutir obat dari botol kecil berlabel Flunarizin, lalu ia menuju bak cuci untuk mengambil air dari kran. Dengan sekali teguk, ia meminumnya. Dimas berharap obat ini segera bisa membuang dera rasa sakit di kepalanya, namun tetap saja hal itu memerlukan waktu.

Sambil bersandar di dinding, Dimas merasakan hawa dingin yang cukup menusuk. Tak ada satupun alat pendingin ruangan disana, namun saraf di kulitnya sama sekali tidak berbohong. Ya, dingin disini.
Mata dimas meneliti seluruh ruangan itu, sambil ia berpikir untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Persepsi di pikirannya memberitahu bahwa ini adalah sebuah ruang tempat tinggal yang mungkin telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Lebih mirip sebuah ruang di flat atau apartemen. Beberapa perabotan tampak lengkap, namun tak satupun perkakas ada disana. Dimas berjalan menuju lorong di ujung ruangan dan melihat sebuah jaket tergeletak di lantai dekat pintu yang terletak di akhir lorong. Dingin ruangan itu dan tanpa banyak pikir, ia memutuskan untuk memakai jaket berwarna biru tua tersebut. Sangat cocok dengan ukurannya. Atau mungkin memang jaket itu adalah miliknya ?

Dengan reflek, tangannya merogoh setiap saku yang ada di jaket itu. Perhatian Dimas terhenyak ketika ujung jari tangannya menyentuh sebuah benda di dalam saku jaket yang ia pakai. Sekali tarik, kemudian Dimas mengetahui bahwa benda tersebut adalah sebuah anak kunci dengan sebuah gantungan plat kecil . Sebuah gambar logo dan tulisan di plat tersebut.

————————————————————————–
Bibliothèque
Faculté Polytechnique de Mons - Académie Universitaire Braitore Bruxelles‎
Rue de Houdain 27, 7100 Mons, Belgium
065 29 91 31
————————————————————————–

Ekspresi wajah Dimas membeku sejenak, pandangan matanya menerawang ke ruang tengah tadi. Nampaknya ia seperti menemukan sebuah simpulan, namun ia harus lagi memastikannya. Bergegas ia kembali ke ruang tengah, dan ia menuju ke arah jendela. Ia melihat bangunan bertingkat dan beberapa deretan rumah yang nampak unik baginya, memang bukan seperti bangunan rumah di Indonesia. Lalu iapun seperti menemukan jawaban pula mengapa ruangan ini terasa dingin tanpa ada pendingan ruangan. Oh, tidak. Aku ada di Belgia ? Aku orang Indonesia, bagaimana aku bisa sampai disini ?
Sederetan pertanyaan makin berlalu lalang menerjang benaknya. Belum lagi sakit kepalanya benar-benar reda, kini Dimas dihadapkan pada suatu keadaan yang sangat memeras nalarnya. Kepalanya menengadah, pendangannya tampak kosong ke arah langit-langit ruangan itu.
Tak mau terlalu berlama-lama dalam kebingungan, Dimas segera meneliti kembali anak kunci yang ia temukan di jaket tersebut. Sebuah angka kecil bertuliskan ‘197′ di balik plat gantungan kunci itu.

kira-kira apa yang harus Dimas lakukan sekarang ?

Di sebuah ruang yang redup dan dingin, Dimas terhenyak dari ketidaksadarannya. Badannya tergolek rebah di lantai, seluruh tenaganya hampir tak bersisa. Berat, tapi perlahan ia berusaha membuka kelopak matanya. Dahinya berkerut menahan kuat rasa sakit di kepala, mencoba menengadah lalu ia menerawang ke atas. Tak ada seseorang pun disekelilingnya. Kosong.
Dimanakah aku,… bagaimana aku bisa berada disini ?
Rasa sakit di kepala itu begitu membelenggunya, tak kuat, ia menjatuhkan kembali wajahnya ke lantai.
Pikirannya mencoba sekuat tenaga mencari penjelasan dari keadaan yang ia alami saat ini, namun selalu saja bagai berada di sebuah jalan yang buntu. Selalu saja mencoba memilih jalan yang nampak terang, namun diujungnya hanyalah deretan tembok besar.
Perasaannya kini campur aduk. Takut, bingung dan putus asa mulai menyerang. Detak jantungnya semakin cepat. Mungkin Dimas mulai panik, namun ia selalu mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tetap tenang dan pasti ada penjelasan tentang semua ini
Berbekal sisa-sisa tenaganya, Dimas mencoba bangkit. Badannya masih terasa lemas, namun ia jelas tak mau berlama-lama berdiam dalam keadaan bingung. Pelan, ia mencoba berdiri. Tubuhnya terhuyung lemas bagai seorang petarung yang terkena pukulan telak. Bersandar di dinding, tangannya menggapai bingkai jendela yang ada di dekatnya.
Dimas melihat melalui jendela kaca, terlihat deretan bangunan bertingkat yang nampak seperti apartemen atau flat, tersusun rapi. Sebuah pemandangan aneh bagi dirinya –bangunan-bangunan yang tidak biasa– dan bisa jelas terlihat bahwa ia sedang berada di suatu bangunan bertingkat. Dari suasananya Dimas menerka bahwa saat ini adalah pagi hari, karena cuaca di luar jendela tampak cukup terang tanpa matahari, dan hawa di kamar itu begitu dingin. Begitu asing.
Mimpikah aku ?
Ruang ini tampak sudah tidak digunakan. Kosong, tidak ada satupun perabotan furniture atau kompartemen disana. Lantainya terbuat dari lapisan kayu, cukup bersuara bila seseorang menjejakkan kaki berjalan di atasnya. Cahaya yang ada hanyalah dari sebuah jendela berukuran cukup besar dengan bingkai geser yang dapat dibuka. Sebuah pintu di ujung sana masih tertutup.
Bertahan sejenak mengumpulkan tenaganya, Dimas berusaha merayap di sepanjang dinding, lalu mencapai pintu di ujung ruangan. Dimas membuka pintu.
Di sebelah ruang itu terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Sebuah meja bundar dan beberapa kursi. Nampaknya ruang ini adalah ruang utama dengan kompartemen dapur di ujung, sebuah bak cuci piring, rak dan set lemari dapur. Semuanya tampak tertata rapi, namun tak ada lagi perkakas yang berada di disana.

Dimas terduduk lunglai di kursi tengah ruang itu, lalu merebahkan kepalanya di meja. Setiap saraf perasa di kepalanya sedang mengirimkan informasi rasa sakit dengan kuat ke otaknya. Rasa sakit itu semakin kuat, tiap denyut aliran darahnya adalah dera.
Mata Dimas segera tertuju ke arah sebuah kotak putih dengan pintu kecil terbuat dari kaca di ujung ruangan ini. Bila ia tidak salah mengidentifikasi, itu adalah sebuah kotak obat. Meski samar-samar, namun ia bisa melihat masih ada beberapa botol kecil di dalamnya. Segera ia menuju kotak itu meski harus berusaha dengan sekuat tenaga.
Ada beberapa strip kaplet obat dan beberapa botol kecil masih tertinggal di dalamnya. Di bagian luar botol-botol itu terdapat label dengan cetakan printer.

————————————–
Prescription pour : Md. Guillaume
si soyez pris avant mangent
. PRODEXON . (dexametason)
————————————–

Tampak ditulis seperti bahasa Spanyol atau Perancis ? Namun Dimas tak mau semakin larut dalam kesakitan dan teka-teki keberadaannya, yang ia tahu saat ini, ia harus berusaha untuk meredakan rasa sakit kepalanya.
Ia mencari obat yang dapat menghilangkan rasa sakit kepalanya. Obat penghilang rasa sakit.
Ada beberapa botol dan strip kaplet dengan tulisan nama obat yang tertera, ia hanya harus memastikan obat mana yang harus ia minum.

  • Ambroxol HCl
  • Isosorbid Dinitrat
  • Dimenhidrinat
  • Dextromethorpan Hbr
  • Flunarizin
  • Acetylsalicylic Acid

Ia melihat nama-nama generic obat, yang seharusnya tidak berbeda secara farmakologi, meskipun menggunakan nama pasaran yang berbeda-beda. Dimas harus meminum obat yang tepat.

Manakah obat yang harus dipilih oleh Dimas ?